Makalah Teori Komunikasi Kritis dan Interpretatif
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Teori-teori komunikasi interpretif
dan kritis termasuk dalam kategori perspektif subyektif. Suatu pendekatan yang
mengansumsikan bahwa pengetahuan tidak mempunyai sifat yang obyektif dan tetap.
Lebih khusus lagi, realitas sosial dianggap sebagai interaksi-interaksi sosial
yang bersifat komunikatif.
Secara umum semua teori yang
termasuk kategori teori-teori interpretif dan kritis mempunyai asumsi dasar
yaitu : “Manusia bertindak, dan tindakannya memiliki arti,
oleh karenanya interpretasi diperlukan untuk memahami perilaku manusia”.
Walaupun demikian teori interpretif dan kritis berbeda dalam beberapa aspek
penting. Teori interpretif ditujukan untuk memahami pengalaman hidup manusia,
atau untuk menginterpretasikan makna-makna. Sedangkan teori kritis berkaitan
dengan cara-cara dimana kondisi manusia mengalami kendala dan berusaha
menciptakan berbagai metode untuk memperbaiki kehidupan manusia.
1.2
Rumusan
Masalah
- · Apa yang dimaksud dengan teori interpretif dan teori kritis ?
- · Bagaimana perspektif interpretif itu ?
- · Bagaimana teori komunikasi kritis itu ?
1.3
Tujuan
- · Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan teori interpretif dan teori kritis.
- · Untuk mememahami perspektif interpretif.
- · Untuk memmahami teori komunikasi kritis.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Teori Interpetif dan Teori Kritis
Teori-teori Kritis dan Interpretatif
termasuk dalam kelompok “Teori-teori umum” (general
theories) menurut Littlejohn (1989), berdasarkan metode penjelasan serta
cakupan objek pengamatannya. Mengacu pandangan Sendjaja (2002: 1.25), bahwa
kelompok teori ini gagasan-gagasannya banyak berasal dari berbagai tradisi,
seperti sosiologi interpretatif (interpretative
sociology) pemikiran Max Weber, phenomenology
dan hermeneutics, Marxisme dan
aliran Frankfurt School serta sebagai
pendekatan tekstual, seperti teori-teori retorika, Biblical, dan Sosiologi
Komunikasi dan Informasi. Pendekatan kelompok teori ini terutama sekali populer
di negara- negara Eropa.
Teori-teori kiritis dan interpretatif
ini kemudian melahirkan teori dan pendekatan baru dalamkomunikasi seperti
sosiologi komunikasi, hukum komunikasi dan hukum media, komunikasiantar budaya,
komunikasi politik, komunikasi organisasi, komunikasi publik,
semiotikakomunikasi, public relation, dan sebagainya. Meskipun ada beberapa
perbedaan di antara teori-teori yang termasuk dalam kelompok ini, namun
terdapat dua karakteristik umum. Pertama, penekanan terhadap peran
subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman individual. Kedua, makna atau
meaning merupakan konsep kunci dalam teori-teori ini. Pengalaman dipandang
sebagai meaning centered atau dasar pemahaman makna. Dengan memahami makna dari
suatu pengalaman, seseorang menjadi sadar akan kehidupan dirinya.
Dalam hal ini bahasa menjadi konsep
sentral karena bahasa dipandang sebagai kekuatan yang mengemudikan pengalaman
manusia. Di samping persamaan umum, juga terdapat perbedaan yang mendasar
antara teori-teori interpretatif dan teori-teori kritis dalam hal
pendekatannya. Pendekatan teori interpretatif cenderung menghindarkan
sifat-sifat preskriptif dan keputusan-keputusan absolut tentang fenomena yang
diamati. Pengamatan (observation) menurut teori interpretatif, hanyalah sesuatu
yang bersifat tertatif dan relatif. Sementara teori- teori kritis (critical theories) lazimnya cenderung
menggunakan keputusan-keputusan absolut, preskriptif, dan juga politis
sifatnya.
2.2 Perspektif Interpretif
Tumbuh berdasarkan ketidakpuasan dengan teori Post Positivis, karena
dianggap terlalu umum, terlalu mekanis dan tidak mampu menangkap keruwetan,
nuansa, dan kompleksitas dari interaksi manusia. Perspektif interpretif mencari
sebuah pemahaman bagaimana kita membentuk dunia pemaknaan melaui interaksi dan
bagaimana kita berprilaku terhadap dunia yang kita bentuk itu. Dalam pencarian
jenis pemahaman ini, teori interpretif mendekati dunia dan pengetahuan
yang sangat berbeda dengan cara teori post
positivis.
Pandangan dasar Perspektif Interpretif
Meliputi
tiga bagian utama yakni :
a)
Fenomenologi
b) Hermeunetika
c)
Interaksionis simbolik
A. Kajian
Fenomenologi;
Dunia
kehidupan (lebenswelt) adalah dasar makna yang dilupakan oleh ilmu pengetahuan.
Begitulah ujar Hussel[14]. Dunia kehidupan adalah unsur sehari-hari yang
membentuk kenyataan kita, unsur-unsur dunia sehari-hari yang kita libati dan
hadapi sebelum kita meneorikan atau mereflesikannya sehari-hari. Jadi
pemikirannya bukan merupakan sebuah gerakan yang kohern. Ia mungkin lebih merfleksikan
pemikiran dari beberapa filsuf, termasuk didalamnya Edmund Husselr, Maurice
Marleu Ponty, Martin Haidger dan Alfred Schutz. Secara singkat dapat dikatakan,
fenomenolgi adalah kajian pemaknaan berdasaran kehidupan sehari-hari. Terbagi
atas dua bagian, yakni Klasik (trasendantal) dan Modern.
B. Kajian
Hermeuneutika;
Adalah
kajian yang menunjukkan para ilmuwan pada pentingnya teks dalam dunia sosial
dan pada metode analisis yang menekankan keterhubungan antara teks, pengarang,
konteks dan kalangan teorisi. Dengan demikian Heurmeneutika pada dasarnya
menyediakan suatu jalan untuk menghindar dari tekanan dalam penjelasan dan
kontrol pada kalangan positivis serta pemahaman subjektif atas penelitian
sosial. Pengkajian teks yang dianalis terus mengalami perkembangan dan kini
studi komunikasinya meluas pada beberapa hal diantaranya, pidato, acara
televisi, pertemuan bisnis, percakapan yang intim, prilaku nonverbal atau
arsitektur dan dekorasi sebuah rumah.
C. Kajian
Interaksionis Simbolik;
Berorienberinteraksi
tasi pada prinsip bahwa orang merespon makna yang mereka bangun sejauh mereka
satu sama lain. Setiap individu merupakan agen aktif dalam dunia sosial, yang
tentu saja dipengaruhi oleh budaya dan organisasi sosial, bahkan ia juga
menjadi instrumen penting dalam produksi budaya, masyarakat dan hubungan yang
bermakna yang memengaruhi mereka.
2.3 Teori
Komunikasi Kritis
Kritik merupakan konsep kunci untuk memahami teori kritis. Teori ini
dikembangkan oleh Mashab Frankfrut. Konsep kritik dupergunakan mazhab ini
memiliki kaitan dengan sejarah dengan konsep kritik yang berkembang pada
masa-masa Rennaisance.
a)
Teori Marxist
Tokohnya Karl Marx (1818-1883).
Teorinya terus memberikan inspirasi bagi perkembangan ilmu sosial juga ilmu
komunikasi. Model analisisnya adalah model khas Marx atau Marxisme, yaitu model
analisis yang mencoba menemukan keuntungan pihak tertentu (dan kerugian pihak
lain) di balik fenomena yang dianggap biasa-biasa.
Marxisme mengembangkan dua istilah
pokok yakni;
·
Substrkutur atau faktor ekonomi yang berkembang
dimasyarakat.
·
Superstruktur atau faktor nonekonomi seperti agama,
politik, seni dan literatur.
Atas dasar analisa ini, Marx
mengarahkan pemikirannya untuk melakukan REVOLUSI (perubahan secara mendasar
dan cepat) struktur masyarakat.
b)
Frankfrut School
Mazhab Frankfurt ialah sebuah nama
yang diberikan kepada kelompok filsuf yang memiliki afiliasi dengan Institut
Penelitian Sosial di Frankfurt, Jerman, dan pemikir-pemikir lainnya yang dipengaruhi oleh mereka. Tahun yang
dianggap sebagai tahun kemulaian Mazhab Frankfurt ini adalah tahun 1930, ketika Max Horkheimer
diangkat sebagai direktur lembaga riset sosial tersebut. Beberapa filsuf
terkenal yang dianggap sebagai anggota Mazhab Frankfurt ini antara lain Theodor Adorno, Walter Benjamin, dan
Jürgen Habermas. Perlu diingat bahwa para pemikir ini tidak pernah mendefinisikan diri mereka
sendiri di dalam sebuah kelompok atau 'mazhab', dan bahwa penamaan ini
diberikan secara retrospektif. Walaupun kebanyakan dari mereka memiliki sebuah ketertarikan intelektual
dengan pemikiran neo-Marxisme dan kritik terhadap budaya (yang di kemudian hari
memengaruhi munculnya bidang ilmu Studi Budaya), masing-masing pemikir mengaplikasikan kedua hal ini dengan
cara-cara dan terhadap subyek kajian yang berbeda. Ketertarikan Mazhab
Frankfurt terhadap pemikiran Karl Marx disebabkan antara lain oleh
ketidakpuasan mereka terhadap penggunaan teori-teori Marxisme oleh kebanyakan
orang lain, yang mereka anggap merupakan pandangan sempit terhadap pandangan
asli Karl Marx. Menurut mereka, pandangan sempit ini tidak mampu memberikan
'jawaban' terhadap situasi mereka pada saat itu di Jerman. Setelah Perang Dunia
Pertama dan meningkatnya kekuatan politik Nazi, Jerman yang ada pada saat itu
sangatlah berbeda dengan Jerman yang dialami Karl Marx. Sehingga jelaslah bagi
para pemikir Mazhab Frankfurt bahwa Marxisme harus dimodifikasi untuk bisa
menjawab tantangan zaman. Patut dicatat bahwa beberapa pemikir utama Mahzab
Frankfurt beragama Yahudi, dan terutama di perioda awal secara langsung menjadi
korban Fasisme Nazi. Yang paling tragis ialah kematian Walter Benjamin, yang
dicurigai melakukan bunuh diri setelah isi perpustakaannya disita oleh tentara
Nazi. Beberapa yang lainnya, seperti Theodor Adorno dan Max Horkheimer terpaksa
melarikan diri ke negara lain, terutama Amerika Serikat.
c)
Teori Feminist Media
Menurut Stephen W. Littlejohn, studi-studi
feminis merupakan sebuah sebutan generik bagi sebuah perspektif yang menggali
pengertian dari gender dalammasyarakat. Dimulai dengan asumsi bahwa gender
adalah kategori yang luas untuk memahami pengalaman manusia, pembahasan feminis
bertujuan untuk mengekspos kekuatan-kekuatan dan batasan-batasan dari pembagian
dunia berdasarkan gendernya. Fatalnya, banyak teori feminis yang memberi
penekanan pada sifat mengekang dari hubungan jenis kelamin di bawah dominasi
patriarki. Dengan sendirinya, feminisme dalam banyak hal merupakan sebuah studi
tentang distribusi kekuasaan di antara jenis-jenis kelamin. Para feminis
sepertinya meminta adanya persamaan hak bagi perempuan, sebuah pengakuan publik
bahwa perempuan memiliki kualitas dan kekuatan yang sama, yang dapat tampil
sama baiknya di segala bidang kehidupan. Di lain pihak, mereka sepertinya ingin
mengatakan bahwa perempuan berbeda dengan laki-laki, dan bahwa kekuatan dan
bentuk2 ekspresi mereka harus dihargai dalam sisi mereka sendiri. Hal tersebut
menimbulkan sebuah paradoks murni, supaya perempuan dihargai dan memiliki
hak-hak yang sama, kekuatan perempuan harus diakui, tetapi penyorotan pada
kekuatan-kekuatan perempuan ternyata semakin memperkuat pandangan patriarkis
bahwa perempuan memiliki tempat sendiri.
d)
Teori Political Economi Media
Vincent Mosco dalam bukunya “The
Political Economi of Communication” secara tersirat menyebutkan bahwa
Posmodernitas dengan ekonomi politik tidak dapat dipisahkan keberadaannya. Hal
tersebut terbukti dari beberapa teori dalam buku Mosco yang mengupas tentang
adanya keterkaitan hal tersebut diatas. Diantara teori-teori tersebut adalah
komodifikasi, spasialisasi dan strukturalisasi. Komodifikasi menurut Karl Marx
ialah kekayaan masyarakat dengan menggunakan produksi kapitalis yang berlaku
dan terlihat seperti “kumpulan komoditas (barang dagangan) yang banyak sekali”;
lalu komoditi milik perseorangan terlihat seperti sebuah bentuk dasar. Oleh
karena itu kami mulai mengamati dengan sebuah analisis mengenai komoditi
(barang-barang dagangan) (Mosco,1996:140). Komodifikasi diartikan sebagai
transformasi penggunaan nilai yang dirubah ke dalam nilai yang lain. Dalam
artian siapa saja yang memulai kapital dengan mendeskripsikan sebuah komoditi
maka ia akan memperoleh keuntungan yang sangat besar. Spasialisasi ialah sebuah
sistem konsentrasi yang memusat. Dijelaskan jika kekuasaan tersebut memusat,
maka akan terjadi hegemoni. Hegemoni itu sendiri dapat diartikan sebagai
globalisasi yang terjadi karena adanya konsentrasi media. Sebagai contoh, media
barat yang menyebarkan budaya mereka melalui media elektronik. Dari adanya hal
tersebut memunculkan translator (orang-orang yang tidak dapat menyaring budaya)
yang akirnya berakibat budaya barat menjadi budaya dunia. Dan kelompok hegemoni
itu sendiri adalah kelompok yang menguasai politik, media dan teknologi
sekaligus. Strukturalisasi merupakan salah satu karakteristik yang penting dari
teori struktural. Yang didalammya menggambarkan tentang keunggulan untuk
memberi perubahan sosial sebagai proses yang sangat jelas mendeskripsikan
bagaimana sebuah struktur diproduksi dan diproduksi ulang oleh manusia yang
berperan sebagai pelaku dalam struktur ini.
e)
Teori Cultural Studies
Bidang ilmu pengetahuan yang relatif
baru ini dengan sengaja mengambil kata majemuk sebagai penamaan diri, yakni
studies (kajian-kajian), bukannya study (kajian). Penamaan ini dengan
sendirinya menyiratkan sikap dan positioning para penggagas cultural studies
terhadap kondisi ilmu pengetahuan di era modern yang terkotak-kotak, saling
mengklaim kebenaran, meskipun lambat laun dimengerti juga bahwa kebenaran yang
dihasilkan disiplin ilmu pengetahuan bersifat parsial. Kondisi semacam itu
dijawab oleh cultural studies dengan menempuh strategi inter dan
multidisipliner. Cultural studies memasukkan kontribusi teori maupun metode
dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk mengedepankan
realita kehidupan umat manusia maupun representasinya yang dipandang krusial
dalam kehidupan mutakhir. Karena cultural studies merupakan bidang keilmuan
yang multi, maka wilayah kajian, pendekatan, teori dan konsep, maupun
pendekatan metodologisnya pun sangat bervariasi; sehingga tidak mungkin dibahas
selengkap-lengkapnya dalam makalah ini. Berikut hanya akan dibahas beberapa hal
yang saya pandang berkaitan dengan sejarah sosial
Salah satu ciri terpenting cultural
studies adalah pemahamannya terhadap dunia sehari-hari sebagai bagian dari
budaya yang perlu dicermati. Hal-hal yang biasa dilakukan, dirasakan,
diomongkan, didengar, dilihat, digunjingkan, dalam kehidupan sehari-hari oleh
orang kebanyakan merupakan wilayah amatan cultural studies.
f)
Analisis Framing
Dalam analisis framing yang
ditekankan adalah bagaimana berita dibingkai? sisi mana yang ditekankan dan
sisi mana yang hendak dilupakan analisis framing dapat digambarkan sebagai
analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, paktor, kelompok, atau
apa saja) dibingkai oleh media.pembingkaian tersebut melalui proses yang
disebut kontruksi. Disini, realitas sosial dimaknai dan dikontruksi dengan
makna tertentu. Dalam ranah penelitian media, analisis framing masuk dalam
pradikma kontruksionis. Pandangan ini dipengaruhi oleh berger dan luckman. Media
bukanlah satu saluran yang bebas memberitakan sesuatu apa adanya.mediajustru
bersipat subyektip dan cenderung mengkonstruksi realitas. Analisis framing
bertijuan untuk mengetahui bagaimana realitas dikonstruksi oleh media.dengan
cara dan teknik peristiwa itu ditekankan dan ditonjolkan. Apakah dalam berita
itu ada bagian yang dihilangkan, lupuk,atau sengaja disembunyikan dalam
pemberitaan. Analisis framing adalah metode untuk melihat cara
bercerita(histori telling)media atas suatu peristiwa. Cara bercerita itu
tergambar pada ’cara melihat’temadak realitas yang dijadikan berita. Sebagai
suatu metode, analis framing banyak mendapat pengaruh dari sosiologi dan
pisiologi.dan sosiologi, terutama sumbangan pemikiran dari peterberger dan
erfing goffman. Dari psikologi adalah sumbangan dari teori yang berhubungan
deng skema dan kognisi,dalam ranah penelitia media, analisis framing masuk
dalam pradikma konstruksionis. Pandangan ini dipengaruhi oleh berger dan
lukman. Media dan berita dilihat dari para dogma konstruksionis. Fakta
peristiwa adalah hasil konstruksi realitas itu bersifat subjektif. Realitas
hadir karena konsep subjektif wartawan. Realitas hadir sudut pandang tertera
dari wartawan.
g)
Analisis Wacana
Banyak model dan teori analisis
wacana yang dikembangkan oleh para ahli. Seperti yang dijabarkan oleh Eriyanto (2001) dalam buku
Analisis Wacana, ada beberapa model analisis wacana yang populer dan banyak
digunakan oleh para peneliti, diantaranya adalah model dan teori analisis
wacana yang dikembangkan oleh Roger Fowler dkk (1979), The van Leeuwen (1986),
Sara Mills (1992), Norman Fairclough (1998) dan Teun A. Van Dijk (1998). Menurut
van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis
teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus
juga diamati. Melalui berbagai karyanya, van Dijk membuat kerangka analisis
wacana yang dapat didayagunakan. Van
Dijk membaginya kedalam tiga tingkatan :
·
Stuktur makro. Ini merupakan makna global/umum dari
suatu teks yang dapat dipahami dengan melihat topik dari suatu teks. Tema
wacana ini bukan hanya isi, tetapi juga sisi
tertentu dari suatu peristiwa.
·
Superstuktur, adalah kerangka suatu teks : bagaimana
stuktur dan elemen wacana itu disusun
dalam teks secara utuh.
·
Stuktur mikro, adalah makna wacana yang dapat diamati
dengan menganalisa kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase yang
dipakai dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
·
Terdapat dua
karakteristik umum pada teori-teori umum. Pertama, penekanan terhadap peran
subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman individual. Kedua, makna atau
meaning merupakan konsep kunci dalam teori-teori ini. Pengalaman dipandang
sebagai meaning centered atau dasar pemahaman makna. Dengan memahami makna dari
suatu pengalaman, seseorang menjadi sadar akan kehidupan dirinya. Di samping
persamaan umum, juga terdapat perbedaan yang mendasar antara teori-teori
interpretatif dan teori-teori kritis dalam hal pendekatannya. Pendekatan teori
interpretatif cenderung menghindarkan sifat-sifat preskriptif dan keputusan-keputusan
absolut tentang fenomena yang diamati. Pengamatan (observation) menurut teori
interpretatif, hanyalah sesuatu yang bersifat tertatif dan relatif. Sementara
teori- teori kritis (critical theories)
lazimnya cenderung menggunakan keputusan-keputusan absolut, preskriptif, dan
juga politis sifatnya.
·
Pandangan dasar
Perspektif Interpretif meliputi tiga bagian utama yakni : fenomenologi,
hermeunetika dan interaksi simbolik
·
Teori Komunikasi Kritis : Teori Marxist, Frankfrut School, Teori Feminist Media,
Teori Political Economi Media, Teori Cultural Studies, Analisis Framing, dan Analisis Wacana
3.2
Kritik dan saran
Dengan mempelajari dan memahami
teori komunikasi dapat membantu untuk memahami pengalaman hidup manusia, atau
untuk menginterpretasikan makna-makna serta memahami cara-cara dimana kondisi
manusia mengalami kendala dan berusaha menciptakan berbagai metode untuk
memperbaiki kehidupan manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Wibiono,
Bambang. 2012. TEORI-TEORI KOMUNIKASI
INTERPRETATIF DAN KRITIS. (online). (http://duniapolitiku.blogspot.co.id/2012/12/teori-teori-komunikasi-interpretatif.html,
diakses pada tanggal 25 Maret 2017)
Anonim. 2012. TEORI-TEORI KOMUNIKASI INTERPRETIF DAN
KRITIS. (online). (http://artikel-makalah-belajar.blogspot.co.id/2012/01/teori-teori-komunikasi-interpretif-dan.html,
diakses pada tanggal 25 Maret 2017)
Komentar
Posting Komentar